Kamis, 10 Mei 2012


Writing is My Life

Hei hei hei semuanya.. :) Cerpen yang kali ini fi buat terinspirasi dari seorang teman yang mengatakan fi memiliki sedikit kemiripan yang bagi fi mungkin itu hanya kebetulan aja dengan seorang Penulis Short story bernama Natsya Muthia mungkin diantara kalian ada yang mengenalnya, Ia kerab disapa Chaca namun sejak Akhir tahun 2011 ia menghilang meninggalkan sebuah cerbung yang belum terselesaikan dan di awal tahun 2012 ini dia dikabarkan telah meninggal dunia dikarenakan penyakit typus… sebelumnya fi berharap kalian semua mau mendo’akannya agar ia tenang dialam sana..AMIN :)
Oyah meski ini terinspirasi dari Bisa dibilang kisah nyatalah, tapi INGAT KEBANYAKAN DARI CERITA DALAM CERPEN INI HANYA FIKTIV DAN KARANGAN BELAKA ….
Okehh langsung ajj baca Cerpennya yah.. :’) makasih udah mau meluangkan waktu untuk membaca cerita ini.. :)
.
.
.
.
.
.
Hei semuanya kenalin namaku Elfira, aku biasa disapa Fira atau kalian juga boleh memanggilku Fi tanpa aja dan tanpa doang yah..hihi.. Aku hobby banget sama yang namanya menulis cerita pendek maupun cerita bersambung, hmm awal aku menulis mungkin sekitar tahun 2009, waktu itu aku masih duduk dibanggku SMP memakai seragam putih-biru, itupun aku menulis hanya sekedar sebagai tugas ekskul kesastraan di SMPku, dan sejak aku sudah mulai mengenakan seragam putih_abu-abu hobby menulisku kian ku gemari, bahkan rasanya aku sakau kalau aku tidak memiliki inspirasi untuk ku tulis, hehe mungkin sedikit lebay yah perumpamaannya ?? hihi… Eh udah dulu yah perkenalannya aku mau berangkat kuliah dulu nih….
“Fira !! dicky udah nungguin tuh dibawah !!!” himbau mamahku sedikit berteriak, akupun bergegas mengambil tasku diatas meja belajar dan turun kelantai bawah
“Kamu lama amat siih …” keluh dicky dengan wajah manyun, tetapi aku hanya tertawa melihat wajahnya, karena semakin dia manyun semakin lucu,, haha… oh yah Dicky itu pacar tercinta aku loh, aku udah pacaran sama dia sejak kami duduk dibangku kelas 2 SMA sampai saat ini, aku udah mulai kuliah meski baru semester satu, hehe… eh ya lupa, meski aku hobby menulis dan memiliki cita-cita kecil dengan hobbyku yaitu menjadi penulis terkenal, tapi aku ngak ngambil kuliah kesastraan karena aku juga punya cita-cita yang aku impikan sejak kecil yaitu menjadi seorang guru matematika..haha bertolak belakang banget yah dengan hobby ku ? tapi bagiku tak menjadi masalah selagi aku bisa membagi waktu dengan baik dan benar..hihi
“Ya sabar atuh Mr.Yuppi..hehe manyun lagi donk..” goda ku padanya
“Idih..kok malah disuruh manyun…??”
“Abis lucu siih…unyu-unyu gimana gitu..hahhaa” ledekku tertawa geli melihat dicky, “ Ya udah ayuk atuh kita kekampus ntar telat lagi, kan Fi ada Test pagi ini sama dosen killer” sambungku mengajaknya pergi
“ Mah..Pah fira berangkat kekampus dulu yah…” pamitku cipika-cipiki dengan kedua orangtuaku lalu  menggandeng dicky pergi
“Kamu ngak sarapan dulu sayank ???” tanya mamahku yang sedang mengoles roti dimeja makan
“Ntar aja deh mah di kampus, Fi ada test pagi nih”
“Oowh, ya sudah hati-hati yah, Dicky bawa motornya jangan ngebut-ngebut yah” pesan mamahku melirik Dicky
“Siap mah !!” sahut Dicky sok akrab dengan mamahku
“Eh, sejak kapan kamu manggil mamah aku ‘ma’ ??” tanyaku heran, karena seakrab-akrabnya Dicky dengan kedua orang tuaku dia tak pernah mamanggil mamahku ma ??
“Ya sejak sekarang donk sayang, kan harus dibiasakan sama calon mertua… iya ngak tante..eh ma ??hihi” ucapnya cengengesan
“ Iya-iya ya sudah buruan gih katanya ada kelas pagi.. ??” ucap papahku tertawa melihat tingkah Dicky
“Oowh iya lupa…..ya udah ayok yuppi” Akupun menyeret Mr.Yuppi yang hobby banget makan yuppi itu..
***
Sesampainya dikampus, Dickypun pergi. Yah Dicky memang tak sejurusan dengan ku dia mengambil jurusan yang sesuai dengan hobbynya yaitu musikalisasi. Akupun yang pagi ini ada test dengan dosen killer, buru-buru menelusuri koridor kampus, namun ternyata dosen killer itu tak hadir dengan alasan sakit, huft aku yang bete dan Dicky pun sudah terlanjur meninggalkanku, akhirnya aku nongkrong di perpustakaan kampus untuk sekedar melihat-lihat atau memantau kembali tulisan-tulisan yang akan aku serahkan ke penerbit buku besok sambil memakan sepotong roti, Memang benarku menggilaimu tapi bukan brarti kau bisa permainkan hatiku Beberapa menit kemudian BBku berbunyi kulihat tertera bacaan IBU. ELLENA CALLING, ibu Ellena adalah manager dari salah satu perusahaan penerbit buku yang sempat ingin kutemui beberapa minggu lalu, namun karena waktu itu beliau sibuk, akhirnya aku hanya disuruh meninggalkan Nomer handphoneku dan aku juga diberikan nomer Handphone beliau, ku tekan tombol hijau lalu aku pun memulai pembicaraan dengannya, setelah berbicara banyak dengan Ibu Ellena, ia mengajakku meeting untuk melihat tulisan karyaku, tanpa berfikir panjang aku langsung mengiyakan permintaannya dan berharap ini adalah langkah awal dari kesuksesanku.
***
Esok harinya aku yang tak ada jam dikampus meminta Dicky mengantarkanku ke Bober café, tempat yang sudah ditentukan oleh Ibu Ellena untuk meeting denganku, Dicky yang memang selalu setia mengantarkanku kemana saja menuruti permintaanku.
Saat sampai di bober café aku tiba-tiba merasa gugup sekali,
“Aduh sayang,  kamu jangan gugup gitu atuh,, bayangin aja wajah akang yang kasep ini, pasti gugupnya hilang” hibur Dicky
“Aahh..akang behel mah bisa aja, yaudah atuh eneng gelish masuk dulu yah, akang do’ain eneng yah biar eneng sukses dan tulisannya di terima penerbit”
“Siip atuh neng, apa sii yang ngek buat eneng..hehe bay the way kok kita jadi ngomong sunda gini yah ??”
“Haha…akang duluan yang mulai..udah ah eneng masuk dulu, akang do’ain yah…” pintaku manja sambil tersenyum gugup
“Iya sayang do’aku selalu menyertaimu.. azzekk” ucap dicky mulai cengengesan
Akhirnya dengan langkah pasti aku masuk ke café itu, kutelusuri dan kulirik satu demi satu meja hingga ku lihat meja bernomer 7 dan ternyata sudah terduduk seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda, yah dia adalah Ibu Ellena
“Siang, Ibu Ellena, ma’af saya telat” ucap ku gugup, namun tak sepatah katapun keluar dari bibirnya ia hanya terdiam sambil memandangiku dari ujung kaki sampai ujung rabut
“Ibu Ellena ??” sapaku lagi untuk yang kedua kalinya dan langsung membuyarkan lamunannya
“ Emm..amm..iya” sahutnya masih terperangah melihatku
“Apa ada yang salah dengan saya bu??” tanyaku keheranan
“Hmm..emm..ngak-ngak ada yang salah kok, kamu yang namanya Elfira yah ??” tanyanya yang masih terlihat bingung
”Iya bu, saya elfira,” jawabku tersenyum
“Kamu….?? Kamu ada hubungan kekeluargaan yah dengan Natasya ??” pertanyaannya membuatku bingung, karena jangan kan ada hubungan kekeluargaan nama yang disebutkan ibu itupun aku tak kenal.
“ Natasya ?? aduh saya ngak kenal tu buk, emang ada apa yah ??” tanyaku lagi
“ Ngak ada apa-apa sih, tapi melihat sosok kamu, saya jadi teringat dengannya.”
“Oowh, memangnya natasya itu siapa bu ??”
“Dia itu seorang penulis yang berbakat juga, namun sayang dia telah meninggal dunia”
“Apa ?? meninggal bu ?? kok bisa ?? kenapa ??” berbagai pertanyaan langsungku lontarkan tanpa koma dan spasi, tapi tetap masih menggunakan tanda tanya..hihi
“Kematiannya dikarenakan tragedy kecelakaan maut dijalan Melati 6 bulan lalu, dan 6 bulan lalu juga novelnya telah diterbitkan namun sayang dia meninggal seminggu sebelum novelnya diterbitkan” jelas ibu itu yang entah kenapa menggoyahkan bathinku, entah kenapa juga, meski aku tak pernah bertemu dengannya, bahkan tak tahu wajahnya hatiku merasa dekat dengannya dan entah angin dari mana pula yang menyebabkan air mataku menetes begitu saja
“Oowh,hmmm oyah bu, ini file tulisan saya, saya harap ibu dapat menerbitkan cerita saya ini” ku usap air mataku lalu Ku alihkan pembicaraan karena jujur, tak tahu mengapa hatiku berduka dan ada hawa lain yang merasuk dalam diriku ini saat aku tahu berita tentangnya.
“Hmm, baik akan saya cek hasil tulisan kamu dan saya akan kabarkan kamu mungkin lusa” jawab ibu itu.
“Oh ya bu, kalau gitu terimakasih banyak ya bu, terimakasih banyak” ucapku reflex sambil memegang tangan kanan ibu itu dengan kedua tanganku, lagi-lagi ibu itu terperangah melihat sikap ku.
“Astaga…” desis ibu itu sambil melepaskan tangannya dari pegangan tanganku
“ Ibu ?? ibu kenapa ???” tanyaku heran
“Tindakan yang kamu lakuin…?!! Tindakan yang kamu lakuin, genggaman tangan kamu, sama persis dengan natasya sewaktu saya menerima file tulisannya” ucap ibu itu mengagetkanku
Kali ini aku sangat  merasakan hawa berbeda di tubuhku, ntah mengapa aku merinding sendiri dan ntah mengapa pula terlintas difikiranku kalau aku memiliki kesamaan dengannya?? Apa mungkin aku mati dengan cara yang sama dengannya ?? hmm…entahlah..
***
Setelah meeting dengan Ibu Ellena aku yang masih merinding disco karena ucapan-ucapannya segera menelpon Dicky.
“Dicky …!! Sayang kamu buruan kesini yah… cepet !!” pinta ku manja lalu mematikan telphonenya begitu saja.
“Sayang…kamu kenapa ?? kamu ngak kenapa-napa kan ??” tanya Dicky yang menghampiriku panic, namun bukannya aku menjawab pertanyaannya aku justru malah memeluknya erat dan sangat erat.
“Kamu kenapa ??” tanya Dicky bingung dalam pelukanku.
“Aku takut..aku takut dicky…aku takut…!!” desahku manja dalam pelukannya dan jujur tanpa aku sadari saat itu mata semua pengunjung café tlah tertuju pada aku dan Dicky.
“Kamu takut kenapa ?? cerita kamu di tolak ??” tanyanya memegang kedua pundakku dan melepaskan pelukanku, lalu menatapku lekat.
“Aku takut…..” hanya kata itu yang mampu ku ucapkan dalam hangatnya pelukan seorang dicky si Mr.Yuppi .
“Iya-iya tapi kamu takut apa ???” tanya Dicky makin panic saat pelukanku semakin erat.
“Aku mau pulang…!!” rengekku yang kali ini melepaskan pelukan Dicky dan berjalan mendahului Dicky.
“Kamu kenapa si sayang ??” tanyanya lagi saat kami diatas motor, namun aku tak menjawab pertanyaannya karena suaraku telah habis termakan tangis, selain itu aku juga tak tahu mengapa aku bisa mengis sehisteris itu, bahkan aku tak mengerti apa yang hatiku tengah takuti, yang pasti hati ini terasa berbeda dan hanya ingin menangis.
Sesampainya di rumahku, aku turun begitu saja dari motor dicky, “Sayang kamu ngak kenapa-napa kan ??” tanyanya pelan, aku hanya menggelengkan kepalaku lalu berjalan masuk kerumah.
***
Ntah kenapa sejak mendengar kabar tentang Nastasya sosok seseorang yang sama sekali tak ku kenal, hatiku merasakan ada hal yang aneh, hingga terlintas difikiranku tentang INTERNET, yah aku yakin nama Natasya pasti ada di internet secara dia adalah penulis novel, yah meski hanya 1 novel yang baru diterbitkannya paling tidak itu dapat melambungkan namanya, terlebih dia adalah korban kecelakaan maut di jalan Melati.
Ternyata betul tebakanku tak perlu waktu lama aku mendapatkan data tentangnya, di media jejaring social dia memiliki banyak penggemar pembaca setia tulisan-tulisan karyanya, namun aku menemukan hal yang miris disana, ternyata selain ia meninggal seminggu sebelum novelnya diterbitkan, ia juga meninggal dengan menyisihkan sebuah Cerita bersambung yang belum terseleikan, lalu siapa gerangan yang akan melanjutkan ceritanya itu ?? jalan pemikiran seorang penulis tak dapat ditebak dengan mudah, sebenarnya aku penasaran dengan ending cerita bersambungnya itu, aku penasaran hal apa yang akan ia ungkap di ending ceritanya itu, namun yah rasa penasaranku dan beribu para pembaca cerbung setianyapun harus dikubur dalam, karena dia telah tiada.
Lagi-lagi terlintas difikiranku, andai aku jadi dia, andai aku meninggal meninggalkan sebuah cerbung yang belum aku selesaikan, andai aku meninggal seminggu sebelum penerbitan novel pertamaku..ahh, ntah lah tiba-tiba setiap hal-hal aneh itu terlintas difikiranku ada hawa aneh dan berbeda yang kurasakan, apa mungkin dia ? ah tak mungkin itu, karena dia telah tenang disana.
Belum puas mengetahui tentang siapa Natasya itu sebenarnya dan asal usul kematiannya, akupun mengotak atik komputerku mengetik namanya dan kejadian tragedi kecelakaan maut itu, dari situ ku dapati info kalau dia meninggal dunia tepat dihari anniv.nya dengan pacarnya, dihari itu mereka berniat merayakan hari anniv.nya disebuah café ternama di jalan Melati, namun diduga karena mereka asik bercanda tawa didalam mobil jadi pacarnya yang mengemudi tidak melihat ada Sebuah truk Puso besar di hadapan mereka, sehingga saat ingin mengelak tak sengaja mereka menabrak pohon besar, dan Natasya saat itu juga meninggal dunia, namun pacarnya masih dapat diselamatkan meski mendapati luka yang cukup serius. Entah kenapa setelah membaca info itu, aku takut hal yang sama terjdi pada aku dan Dicky, aku takut, dan aku memutuskan untuk tidak melewati jalan melati itu meski aku sadar sebelum membaca info itu aku dan Dicky selalu lewat jalan melati karena jalan itulah jalan terdekat menuju kampusku.
Pagi ini Dicky yang selalu mengantarku pergi ke kampus, kumintai untuk tidak melewati jalan melati, “Kamu kenapa sih ? gak mau lewat jalan melati ??” tanyanya padaku
“Aku ngak mau… aku takut…”
“Kamu dari kemarin takut terus katanya,, apa sih yang kamu takutin sayang ???”
“Aku takut mati Dicky…..” mendengar ucapanku Dicky yang reflek karena kaget langsung mengerem mendadak motornya sehingga daguku mengenai pundaknya
“Aduuh” desahnya yang mungkin merasa sakit karena terkena dagu ku
“Sorry.. lagian kamu kok ngerem mendadak sii ??” tanyaku ketus sambil turun dari motornya
“Yah kamunya ngomong gitu….kamu kok bisa ngomong gitu sii ??” tanya Dicky penatap mataku
“Dicky..aku takut mati….hmm…kemarin saat aku meeting ama Ibu Ellena dia bilang aku mirip ama salah seorang penulis namun penulis itu sudah meninggal dunia” jawab ku lirih
“Lah trus apa yang kamu takutin sayang ??”
“Aku takut, jika aku punya kesamaan dengannya aku akan mati dengan cara yang sama dengannya, aku ngak mau mati sebelum novel pertama aku terbit Dick, aku juga ngak mau mati meninggalkan cerita bersambung yang belum ending” jelasku panjang lebar sambil meneteskan air mata
“Sayang… kamu kok bisa sii berfikiran konyol kayak gitu, mirip itu palingan Cuma kebetulan aja kok… kamu jangan berfikiran konyol gitu donk,,,pokoknya sekarang kita lewat jalan melati, karena aku yakin ngak akan terjadi apa-apa dengan kita, kalau soal mati itu takdir tuhan sayang”
“Tapi….”
“Ssstttt..gak ada tapi-tapi ayo naik, ntar kita telat ke kampusnya” ucap Dicky tegas dengan sedikit tersenyum, yah dengan kata-kata dicky tadi jujur saja rasa takutku sedikit terobati, dan mungkin benar kata dicky kalau apa yang aku bayangkan itu hanya sebuah fikiran konyol yang harus disingkirkan. Namun tetep saja rasa takut masih membayangiku meski rasa itu sudah mulai mengecil, tapi huufft aku lega sekarang bisa sampai kampus melewati jalan melati tanpa kecelakaan… :)
***
Oyah hari ini adalah hari anniv.nya aku dengan dicky yang ke-2 tahun loh, aku bahagia sekali apalagi kemarin aku sudah mendapatkan kado indah, yaitu Novelku akan segera diterbitkan 1 minggu lagi…hufft senengnya.
Tttiiiiitt tttiiiitttt terdengar suara clakson mobil dari luar, akupun membuka pintu rumah dan ternyata sudah ada Dicky diluar.
“Dicky ?? kamu kok tumben bawa mobil ?? motor kamu mana ??” tanyaku heran
“Motor aku di bengkel sayang, oyah sekarang kita jadikan ke Bober Café ??” tanyanya sambil tersenyum
“Jadi donk..tapi tunggu yah aku belum siap-siap niih, kamu masuk aja dulu” ajakku menyuruh Dicky masuk.
15 menit kemudian akupun muncul kembali dihadapan dicky dengan memakai Drass selutut berwarna putih dengan hiasan pita hitam yang lucu serta mengenakan high heels hitam yang tidak terlalu tinggi.
“Waah… udah cantik nih My princess..” ucap Dicky terpesona melihatku
“Aahh..kamu bisa aja deh.. yaudah yuk…”
Saat aku mulai masuk kedalam mobil Dicky, lagi-lagi hawa aneh dan berbeda kembali dapat kurasakan dan angin seolah berhembus hanya dipipiku fikirankupun kembali terbayang-bayangi dengan kejadian tragedy kecelakaan dijalan melati itu,tapi kenapa aku harus takut ?? Bober café kan ngak terletak dijalan melati ?? fikirku lagi..
“Kamu kok bengong ??” tanya Dicky yang ternyata sedari tadi memperhatikan aku melamun
“Ha ?! ngak.. aku ngak papa kok, ya udah ayo jalan” ucapku sedikit gelagapan
Dickypun mulai menyetir mobilnya diawali dengan kecepatan standart lalu semakin lama semakin kencang, didalam mobil, Dicky yang mungkin merasakan kegelisahan hatiku mencoba menghiburku dengan lelucon-lelucon lucu miliknya yang tergadang membuat perutku geli..
“Aah..uda ah Dick, kamu focus tuh nyetirnya..” ucapku
“Fi kamu tau ngak aku itu ngak bisa focus nyetir mobil, karena aku Cuma bisa focus pada satu hal yaitu kamu” gombal dicky sambil sesekali mengacak-acak rambutku

“DICKY AWWWAAASSSS !!!!!!” jeritku yang saat itu melihat Truk puso besar baru saja muncul dari tikungan, Dicky pun langsung membanting stirnya hingga mobil yang kami tumpangi menabrak sebuah pohon besar.
“Aawww…” ucapku separuh sadar sambil memegangi keningku yang sudah mengeluarkan darah segar, kulirik kerah dicky yang kepalanya tergeletak diatas stang mobil
“Dicky…sayang…sayang kamu ngak papa kan ??” ucapku dengan tenaga seadanya menegakkan kepala Dicky yang sudah berlumuran darah, namun Dicky tak kunjung sadar
“Apa mungkin kisah Natasya terjadi padaku ?? ini hari anniv.ku dan hari ini tepat seminggu sebelum novelku diterbitkan, tapi ??kenapa dicky yang mati ??? kan aturannya aku dan inikan bukan jalan melati ??” ucapku berbicara sendiri dengan pelan
“Iih..jahat kamu fikir aku udah mati ??” tiba-tiba saja dicky sadarkan diri
“Dicky ?? kamu ngak apa-apakan ??” tanyaku panic
“Aku ngak papa sayang….aku mau kejadian ini jadi pelajaran buat kamu”
“Maksud kamu ??”
“Sayang…kecelakaan itu dapat terjadi dimana saja,kapan saja,dan menimpa siapa saja. Kemiripan itu hal wajar dan mungkin saja hanya sebuah kebetulan. Dan kematian itu kuasa tuhan tak ada yang dapat mengelak dari situ” tutur Dicky dewasa banget
“Iih..dapat dari mana tuh kata-kata ?? tumben dewasa banget ???” godaku pada Dicky, dan entah kenapa meski kening kami masing-masing mengeluarkan darah segar namun karena kebersamaan dan cinta jadi ngak kerasa sakit deh..hihi#rada lebay
“Abis kejedot stang makanya jadi dewasa..hahay…” gelak tawa Dicky menepis musibah yang menimba kami karena benar kata Dicky, dari musibah ini aku dapat mendapat banyak pelajaran
***
Seminggu kemudian aku menggelar acara syukuran dirumahku, karena novel pertamaku telah diterbitkan dan tanpa sepengetahuanku diacara syukuran itu dicky memberiku sebuah kado yang tak lain adalah novel karyaku sendiri, namun hal yang membahagiakan untukku adalah tulisan yang dibuat dicky dibelakang buku itu, tulisannya kaya gini “Meski aku punya pacar seorang calon guru matematika sekaligus penulis novel terkenal, namun aku berharap kisah cinta kita tak serumit matematika dan tak seperti novel yang memiliki ending…LOVE YOU FIRA SAYANG.. :*” haha aku tertawa membaca tulisan itu, ntah dari mana ia dapat isnpirasi menulis kata-kata itu, karena selama ini, aku mengenal dicky bukanlah sosok pria penggombal yang romantis. Haha
Malam harinya aku melihat sebuah cahaya putih yang begitu bersih disebuah lorong yang tak pernah aku jumpai selama ini, dan tiba-tiba saja aku melihat sesosok wanita cantik seusiaku mengenakan gaun putih yang panjang muncul dari balik cahaya itu, wanita itu tersenyum melihatku yang tengah kebingungan.
“Kamu siapa ??” tanyaku heran, wanita itu hanya tersenyum lalu berkata “kamu hebat….jangan mudah puas dengan apa yang telah kamu raih, truslah menulis sahabat, aku menunggu karya-karyamu yang lain meski hidup bukan untuk menulis tapi jadikanlah menulis bagian dari hidupmu yah…”
Aku heran mendengar kata-kata wanita itu, sebenarnya siapa dia dan apa maksud dari kata-katanya ?? tak sengaja aku tersentak dari tidurku, fikirankupun terbang ke Natasya yah mungkin wanita itu Natasya..fikirku…
“Sahabat….meski aku tak pernah berjumpa dengan mu selama kau hidup, meski aku mengenalmu setelah kau tiada, tapi hatiku tak dapat pungkiri rasa kedekatan kita, aku menyayangimu seperti sahabatku sendiri…dan insyaallah selama allah masih mengizinkan, aku akan tetap menulis…WRITING IS MY LIFE” ucapku tersenyum haru sambil meneteskan air mata.
== THE END ==
Maaf kalo dalam Cerpen ini ada kata-kata yang menyinggung/salah, Cerita ini hanya FIKTIV dan kerangan belaka kok…. :) dan kalo EYD serta  tanda baca dalam cerpen ini berantakan,mohon maklum aja yah :D karna fi memang kurang menguasai hal itu, dan masih perlu banyak-banyak belajar untuk hal itu :)

yg udah baca tinggalin jejaknya yah….jangan jadi pembaca rahasia yah….. :)
NO EDIT or Copast….hargailah karya anak bangsa dan belajarlah kreativ… :)
LIKE,KRITIK/SARAN diperlukan.. :)
Follow @26ratifamazari
Dan buat yang mau baca cerpen cerbung fi lainnya bisa JOIN di http://kumpulancerpenbyfira.blogspot.com/


1 komentar:

  1. Mahu nanya....di mana sih mahu cari blog almarhum natsya muthia?

    BalasHapus