Kesejukan angin pagi telah menyapa tubuhku yang masih terbaring diselimuti badcover berwarna biru muda dengan goresan awan putih yang lucu, Ehmm desis ku sambil terduduk diatas ranjang sembari mengusap-ngusap kedua mataku, saat kulihat jam wekker di atas meja rias tepatnya disebelah kiri tempat tidurku, ternyata sudah menunjukkan pukul 09.00 wib tapi aku bersikap biasa saja, karena aku tahu kalau hari ini adalah hari libur, seperti biasa sebelum mandi aku lebih memilih meninggalkan tempat tidurku yang berantakan dan turun kelantai bawah menuju ruang makan, satu persatu anak tangga ku turuni, saat sampai dilantai bawah kudapati si Mbok yang sedang asyik mengelap gelas-gelas antik milik mamiku yang terpajang indah dilemari hias.
“ Pagi, Non ? Non mau sarapan yah ?” Tanya si Mbok, ia adalah pekerja rumah tangga atau kerap di sebut pembantu, ia sudah bekerja dengan keluargaku sejak aku belum terlahir didunia ini, ia jugalah yang telah merawatku sejak kecil, yah sejak kecil hingga sekarang aku menginjak usia 17thn ini aku tak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuaku, bahkan aku juga tak pernah merasakan ASI (air susu ibu), itu semua karena Papi dan Mamiku sibuk dengan urusan mereka masing-masing, mereka selalu pergi sebelum aku bangun dan pulang setelah aku terlelap tidur, namun terkadang saat mereka pulang aku tersentak karena mendengar suara pertengkaran mereka.
“ Iya Mbok, Lala mau sarapan…..”belum sempat aku meneruskan jawabanku, “ Sarapan nasi goreng pakai telur ceplok setengah matengkan, Non?” potong si Mbok yang memang sudah tahu betul akan sarapan favoritku
“ Iya Mbok, Mbok emang paling Thebest deh..” ucapku dibarengi tawa kecil sambil mengangkat kedua jempolku
“ Oke, kalo gitu si Mbok masakin dulu ya Non, Non Lala mandi dulu gih” ucap si Mbok sambil meletakkan kan gelas-gelas antik mama yang sedari tadi berada ditangannya
“Siip Mbok ! masak yang enak ya Mbok” ucapku manja sambil tersenyum manis
Setelah selesai mandi dan berpakaian, hidungku mencium aroma nasi goreng buatan si Mbok yang sepertinya sangat lezat, akupun buru-buru keruang makan, kudapati si Mbok yang tengah menyiampkan hidangan nasi goreng lengkap dengan telur separuh mateng pesananku
“ Wah, kayanya enak nih ! aku makan ya, Mbok ?” ucapku yang sudah duduk berhadapan dengan sepiring nasi goreng yang tampak lezat itu
“ Sip, Non” ucap si Mbok lalu meninggalkanku pergi
Setelah selesai sarapan aku pergi keruang tengah, aku yang tak hobby menghabiskan waktu untuk shopping dihari libur, memang lebih sering memilih menonton televisi sambil tertawa geli menyaksikan aksi-aksi kocak dari kartun-kartun favoritku seperti Doraemon,Marsupilami,danlainsebagainya.
“ Non, Mbok pergi dulu yah..” Pamit si Mbok mengagetkanku yang tengah asyik menonton Televisi
“ Mbok ? mau kemana ??” tanyaku setengah kaget
“ Ya mau kepasar atuh Non, seperti biasa inikan sudah awal Bulan baru, jadi si Mbok harus beli perlengkapan dapur Non, kan sudah pada habis” jelas si Mbok yang terlihat cantik olehku pagi itu
“ Oowh, kalau gitu Lala ikut yah…Lala bosen nih dirumah” Pintaku dengan manja
“ Tapi Non, Simbok mau kepasar bukan ke swalayan, jadi becek Non”
“ Gak papa kok, yang penting Lala ikut yah”
“ Tapi Non yakin ??”
“ Iya si Mbok..”
“ Ya sudah Non gati baju dulu gih”
“ Gak ah pakai ini aja”
“ Non yakin ??” tanya si Mbok yang tampak ragu dan memandangiku yang sedang mengenakan celana Levis diatas lutut dipadu dengan kaos Distro berwarna Hijau
“ Yakin Mbok..ya udah, kita pergi yuk !”
Akhirnya si Mbokpun mengikuti saja apa kemauanku, dengan diantar Pak Ujang supir yang sudah cukup lama juga mengabdi di keluargaku, akhirnya aku sampai dipasar. ASTAGA ternyata pasarnya begitu becek, sang mentari pun tak persahabat, aku hanya terdiam melihat kondisi pasar yang becek, ramai, kumuh, dipadu dengan cuaca yang begitu terik. Jujur baru sekali ini aku berada dipasar tradisional ini, meski aku tahu setengah atau bahkan 85% rakyat dinegeri ini termasuk si Mbokku telah terbiasa berbelanja dipasar seperti ini, karena harganya yang cukup bagi semua kalangan.
“ Non Lala kok diam ? Non takut yah kulitnya hitam terbakar sinar matahari ? trus kakinya kotor kena becek ?” Pertanyaan si Mbok seolah tlah membaca jalan pikiranku
“ Gak kok Mbok….aku gak takut, yuk kita belanja !!” Ajakku yakin lalu bergegas masuk bersama si Mbok kedalam pasar, sementara Pak ujang menunggu di dalam mobil.
Meski awalnya aku geli berjalan ditengah ramainya orang, bercampur dengan bau keringat dan kondisi jalan yang becek, namun aku tetap menunjukkan sikapku yang biasa saja pada siMbok, sekitar 1 jam kami mengelilingi pasar mencari barang-barang yang dibutuhkan, kakiku merasa letih, keringatku yang telah berulangkali ku usap tetap saja membasahi tubuh ini, Krrekk suara perutku terdengar padahal tadi pagi aku baru saja makan nasi goreng.
“ Mbok, belanjaannya udah semua kan ??” tanyaku pada si Mbok
“ Udah Non, Non capek yah ? ya sudah yuk kita pulang” Ajak simbok, tak sengaja didekat pasar itu aku melihat sebuah warung bakso, ntah mengapa aku tertarik untuk mampir kesana
“ Mbok..sebelum pulang kita makan bakso dulu yuk ! tuh disitu” Pintaku menggandeng tangan simbok sambil menujuk warung bakso yang ku mau
“ Tapi Non, Non yakin mau makan bakso disitu ??”
“ Yakin Mbok, ayo atuh, Lala udah laper nih” Akupun menarik lengan si Mbok
Saat aku sampai ditempat bakso itu, astaga.. Aku melihat tukang baksonya ganteng banget, bak seorang pangeran dan badannya wangi sekali…hmm
“ Mau pesen apa, Mbak ??” tanya tukang bakso itu mengangetkanku
“ Hmm..ammm…emmm… ya mau mesen bakso lah Mas” jawabku salah tingkah dengan senyum seadanya
“ Mau di makan disini ? atau di bungkus mbak ?” Tanyanya lagi
“ Makan disini aja Mas, pesen dua yah” jawabku tanpa berpikir
“ Oowh, silahkan Mbak dan ibunya tunggu dimeja saja” ucap Mas tukang bakso itu membuatku heran, aku sama sekali tak menyangka kalau Mas tukang bakso itu menganggap si Mbok adalah ibuku, apa mungkin karena dandananku pagi ini sudah terlihat kumuh ? hmm..entahlah…
***
Entah kenapa sejak kejadian tadi pagi, wajah tukang bakso itu selalu membayangi pikirannku, ku tersenyum sendiri memandangi langit-langit kamarku sambil membayangkan wajah tukang bakso yang kusendiri tak tahu siapa namanya itu.
Esok harinya aku yang merasa penasaran dan ingin lebih dekat dengan tukang bakso itu sepulang sekolah langsung saja mampir ketempat warung bakso yang kemarin aku datangi bersama si Mbok
“ Eh, kamu ? kamu cewek yang kemarin beli bakso disinikan ??” tanyanya ramah padaku
“ Yah…hmm, kenalin nama aku Clarinta, panggil aja Lala “ ucapku sambil mengulurkan tangganku padanya
“ Ilham Fauzie, panggil saja Ilham” ucapnya membalas uluran tanganku,
“ Kamu mau pesen bakso lagi ??” tanyanya padaku
“ Hmm…sebenarnya si cuma mau kenalan..” jawabku malu-malu sambil tersenyum kecil
“ Haha..kamu lucu deh, eh kamu kok bisa sih sekolah di sekolahan elite ??” tanyanya sambil melirik pakaian seragam sekolahku, yah memang aku bersekolah di SMA swasta yang terkenal sebagai sekolahan anak-anak para pejabat tinggi Negara
“ Heii ??” ucapnya melambaikan tangan ke hadapan wajahku dan membuyarkan lamunankecilku, “ Sorry yah kalu pertanyaanku menyinggung kamu ? tapi aku heran saja karena kamarin penampilan kamu dan ibumu, Maaf seperti pembantu” sambungnya lagi
“ Ahh gak apa kok, yang kemarin itu bukan ibuku, dia si Mbok,pembantuku”
“ Oowh..pantaslah aku merasa ada yang menjanggal..ma’af yah aku sudah pikir kamu anak pembantu”
“ Iyah gak apa kok, lagian jadi anak pembantukan gak dosa” jawabku tersenyum
“ Oh yah, sudah sore nih aku ada kelas di kampus, aku pergi dulu yah” pamitnya padaku, lagi-lagi ucapannya mengagetkan dan membuatku terpaku heran. Kampus ?? dia kekampus ?? brarti dia kuliah donk ?? lagi-lagi pertemuanku dengannya menyisihkan pertanyaan, namun kubiarkan pertanyaan itu menjadi materi pembicaraanku esok dengannya.
Esoknya aku yang berniat menemuinya ke warung bakso, terpaksa harus mengurungkan niatku, karena aku harus membeli buku Novel sebagai tugas bahasa Indonesia yang wajib dikumpul besok, di toko buku tak sengaja aku manabrak seseorang, dan memang benar kata pepatah kalau jodoh takkan lari kemana, yah seseorang yang kutabrak itu adalah Ilham
“ Ilham ?? kamu ngapain disini ??” tanyaku masih kaget
“ Eh, kamu La ? aku mau nyari buku untuk kuliah aku, kamu sendiri ??” tanyanya padaku
“ Aku juga mau nyari buku untuk tugas sekolahku…” jawabku tersenyum kecil
Aku bahagia sekali hari ini, karena semua pertemuanku kali ini dengan ilham tak menyisihkan pertanyaan, bahkan pertanyaan yang terlintas dibenakku kemarin telah terjawab, ternyata ilham adalah seorang Mahasiswa fakultas Ekonomi semester 3 yang sedang magang dengan berjualan bakso.
Waktu trus berlalu, sejak kenal Ilham hari-hari yang kulewati menjadi kian berwarna, aku bahagia sekali bahkan hubunganku dengan Ilham sudah semakin dekat,sore ini ilham mengajakku jalan-jalan ketaman kota.
Saat aku dan ilham sedang asyik bercandaria sambil menyusuri area tamankota yang dipenuhi dengan bunga-bunga, tak sengaja aku melihat sebuah keluarga kecil yang sedang bercanda tawa, langkahku terhenti, pandanganku terpusat melihat seorang gadis kecil yang mungkin usianya masih dibawah 5 tahun itu sedang bercanda tawa dengan ayah dan ibunya, entah angin apa yang membuat bibirku ini tersenyum kecil disertai airmata yang tanpaku sadari sudah membetuk dua aliran dipipiku…tuhan,begitu bahagianya gadis itu..kapan ? kapan mami dan papi mengajakku ketaman dan bercanda tawa seperti itu ucap bathinku sambil fikiranku menghayal aku sedang berada disituasi seperti gadis kecil itu dan bercandatawa dengan mami dan papiku.
“ Lala…?” Ilham melambaikan tanggannya dihadapanku yang membuat semua khayalan dan lamunanku buyar.
“ Hmm..ham,kita pulang aja yuk…” ajakku pada ilham dengan terbata-bata, Ilhampun mengantarkanku pulang dengan sepeda motor sederhana miliknya
Sesampainya dirumah, entah mengapa aku merasa rindu dengan orang tuaku, aku langsung mencari si Mbok kedapur, begitu aku bertemu dengan si Mbok, aku langsung memeluknya, si Mbok pun kaget dengan sikapku.
“ Non..?? Non Lala kenapa ??”
“ Mbok…Lala pengen dipeluk…” ucapku manja sambil menangis, malam ini aku yang begitu menginginkan pelukan dari kedua orangtuaku dan kebetulan juga besok adalah hari libur, aku pun menunggu kedua orangtuaku pulang diruang tengah sambil menonton televisi, waktu sudah menunjukkan pukul 23.58 wib namun kedua orang tuaku butak kunjung pulang, mataku kian detik berlalu kian terasa kantuk, hmm akhirnya dengan langkah lemas aku menuju kamarku, satu persatu anak tangga kunaiki sambil berusaha membuka mataku yang mungkin sudah tinggal 5watt ini, begitu sampai dikamar aku langsung membaringkan tubuhku, dan tak perlu waktu lama akupun tlah tiba di alam mimpi.
BBrruuukkk…. Ntah benda apa yang jatuh dan pecah, namun akibat suara itu aku terbangun, kulihat jam menunjukkan pukul 00.25 wib malam itu lagi-lagi aku menangis meneteskan airmataku, karena untuk yang kesekian kalinya aku mendengar orangtuaku sedang bertengkar hebat, tangis ku semakin menjadi saat ku dengar Mami mengucapkan kata cerai pada Papi ku, oh.. aku sama sekali tak tahu harus berbuat apa ? aku takut, apa yang akan terjadi padaku kalau mereka benar-benar akan cerai ? siapa yang harus kupilih ? hmm…malam itu aku tak mampu lagi memejamkan mataku, hanya tangis yang menemani kesunyian malamku, ingin rasanya aku menelpon Ilham untuk bercerita tentang kesedihanku, namun aku tak sanggup menggapai Handphoneku tubuh ini benar-benar tlah terasa letih, dunia ini seakan telah menghimpit tubuhku dan membunuhku secara perlahan.
Pagi ini aku tertunduk lesu dimeja makan, sesekali air mataku menetes membasahi pipi ini.
“ Tarrraaa… nasi goreng telur separuh mateng sepecial buat Non Lala, sudah jadi….!!” Ucap si Mbok berusaha membuat suasana pagiku ceria, namun aku tak memperdulikan sedikitpun tentang hal itu, aku masih trus saja melamun dan terdiam mebisu.
“ Non Lala, dimakan yah nasi gorengnya “ kali ini si Mbok memandangiku penuh harap agar aku mau memakan nasi goerengnya
“ Lala ngak laper Mbok” ucap ku pelan lalu beranjak pergi, aku yang tak kuasa menahan rasa yang bergejolak dihati ini, berjalan menuju garasi, sebelumnya ku temui Pak Ujang untuk meminta kunci Mobil, awalnya Pak Ujang tak mau memberikannya padaku, tapi melihat wajahku yang penuh air mata dan mungkin Pak Ujang merasa kasihan padaku, akhirnya Pak Ujang memberikanku kuci mobil, aku pun bergegas menuju warung baksonya Ilham, dan ternyata hari ini Ilham tidak masuk kerja, akupun meminta alamat kost ilham kepada rekan kerja ilham, setelah itu aku mengemudikan mobilku menuju kost-an Ilham.
“ Ilham ??!!” ucapku kanget mendapati Ilham sedang cipika-cipiki dengan seorang wanita yang terlihat sexy dan cantik
“ Lala ??!! La, ini semua ngak seperti apa yang kamu liat….!!” Ucapnya padaku dengan sedikit berteriak, namun aku sama sekali tak memperdulikannya aku masuk kembali kedalam mobilku kemudian mengemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi menuju rumahku, kusalip semua mobil yang berada di depanku, kali ini aku memang benar-benar membawa mobilku dengan brutal, emosiku benar-benar sudah hilang kendali. Kini hatiku benar-benar telah hancur atau mungkin tlah tiada, air mata semakin deras keluar dari pelupuk mataku sakit, sakit, sakit rasanya hati ini.
Sesampinya diruamah aku bergegas masuk kekamarku dan membaringkan tubuhku yang tlah tiada berdaya ini.
Tuhan…apa mau mu ?? kenapa kau berikan cobaan yang begitu berat ini ?? Tuhan..aku sudah tak sanggup lagi menghadapi semua ini…aku tak sanggup memilih, jika orang tuaku benar-benar bercerai…aku tak sanggup kehilangan sosok lelaki yang slama ini aku idam-idamkan…aku tak sanggup Tuhan…. Tuhan..lebih baik kau ambil saja nyawaku, dari pada kau bunuh aku secara perlahan seperti ini, Tuhan jawab aku….!!! Semua kata-kata itu mengalir begitu saja dari bibirku tanpa komando, tak sengaja mataku melirik secanggir gelas kaca yang berisi air putih diatas meja riasku, ntah setan apa yang tlah masuk dalam diriku ini, ku ambil gelas itu, kutuang begitu saja air didalamnya hingga lantai kamarku basah lalu ku jatuhkan, hingga kulihat gelas itu pecah, akupun tersenyum sinis, kuambil salah satu dari pecahan galas itu “ Tuhan..aku tahu bunuh diri itu dosa, tapi kurasa ini yang terbaik untukku, Tuhan…” ucapku lalu menyayat pergelangan tanganku dengan pecahan itu, perlahan tapi pasti darah sengar mengalir dari pergelangan tanganku aku tersenyum dan perlahan tubuhku semakin melemas.
Ketika aku membuka mata, kulihat aku berada disebuah ruangan baru, mungkin ini surga..pikirku, namun kumerasa ada yang menggenggam erat tanganku Ilham desahku.
“Lala..kamu udah sadar ??” tanyanya membelai rambutku…
“ Aku..aku dimana ??” tanyaku mulai histeris
“ kamu dirumah sakit, tadi si Mbok dan Pak Ujang yang membawa kamu kesini, dan mereka juga menelponku, kamu kenapa sih pakai acara bunuh diri segala ??”
“ Bukan urusan kamu..!!” bentakku sinis sambil melepaskan tanggan Ilham yang sedari tadi menggenggam tanganku.
Kklliik pintu terbuka dan muncul kedua orang tuaku dari balikpintu..
“ Sayang…. Kamu kenapa Nak ? kamu ngak kenapa-napa kan ??” tanya Mamiku yang kelihatan cukup panik, Ilham yang melihat kedua orang tuaku datang mulai beranjak dan meninggalkanku bersama orang tuaku
“ Sayang, kamu ngak kenapa-napa kan Nak ??” kali ini papikupun angkat bicara..
“ Mi, Pi… kalian masih peduli sama Lala ??” tanyaku polos
“ Ya iyalah sayang.. Mami sama Papi sayang sama kamu, karena kamu putri satu-satunya kami…” jawab mamiku, mewakili jawaban Papi
“ Tapi kenapa kalian selalu sibuk dan ngak ada waktu untuk Lala…??”
“ Lala sayang.. ma’afin Papi sama Mami yah.. kami sayang Lala.. kami sibuk bekerja cuma ingin Lala bahagia dan tak kekurangan apapun dan agar Lala bisa membeli apa saja yang Lala mau…” jelas Papi ku
“ Tapi Pi, Lala ngak butuh harta… Lala butuh kasih sayang mami sama papi….” Ucapku meneteskan air mata… “ Mi, Pi, apa benar kalian ingin bercerai ??” sambungku lagi… kali ini Mami dan Papi ku terdiam, mereka saling berpandangan..
“ Mi ? Pi ?” ucapku lagi untuk memastikan…kali ini Mami menganggukkan kepalanya sebagai jawaban YA,
“ Mami sama Papi jahat !! katanya sayang Lala.. tapi kenapa Mami sama Papi cerai…??!! Kalo kayak gitu mending Lala mati aja tadi ?? kenapa dibawa kerumah sakit !! ” bentakku penuh derai airmata.
“ Hhussst.. kamu ngak boleh bicara gitu sayang..bunuh diri itu dosa,” ucap Papiku
“ Cerai itu juga Dosa !!” jawabku cemberut seperti anak kecil berusia dibawah 5thn…
Lagi-lagi Mami dan Papiku terdiam… “Mi..Pi..selama ini Lala ngak pernah minta sesuatu ke Mami sama Papi, kali ini Lala cuma mau minta satu Mi, Pi… tolong kalian jangan bercerai…Lala gak tau harus ikut siapa kalau kalian bercerai..Lala butuh kasih sayang Mami, Papi..bukan hanya sekedar harta” penjelasanku membuat kedua orangtuaku ikut menangis merekapun memelukku erat, kali ini aku benara-benar dapat merasakan hangatnya pelukan kedua orang tuaku.
“Papi sama Mami ngak bakalan cerai kok” ucap Mamiku tersenyum dan melirik Papiku..
“ Janji ?” akupun tersenyum kecil dan memberi jari kelingking sebagai tanda janji..
“ Iyah sayang…” mami membalas janji jari kelingkingku dengan senyuman
“ Makasih ya Mi, Pi..” hari ini tuhan benar-benar menunjukkan Kuasanya padaku, ia tak mau aku mati dalam bunuh diri sehingga aku masih dapat menikmati indahnya hidup dan kasih sayang orang tua. Namun kebahagiaanku belum terasa sempurna karena hubunganku dengan Ilham yang masih renggang, kali ini berani-beraninya ilham membawa wanita yang kulihat cipika-cipiki dengannya kerumahku.
“ Ilham, ngapain lagi kamu kesini ???” tanyaku sinis namun sebenarnya aku sangan rindu dengan masa-masa bersama Ilham
“ Lala….wanita yang disamping aku ini, wanita yang bikin kamu cemburu ini dia adik aku..adik kandung aku” ucapnya mengagetkanku
“ Iya kak, aku adiknya kak Ilham, namaku Fany, kak, kakak jangan marah lagi yah sama kak ilham, kak Ilham sayang bangetloh sama kakak” ucap wanita yang ternyata adalah adiknya ilham itu
Hmm..aku merasa sangat bodoh karena telah cemburu buta pada ilham, aku pun segera memeluk ilham erat, “ Ma’af yah.. Lala udah salah faham” ucapku dalam pelukan ilham
“ Iyah, gak apa kok, lagian Ilham seneng, berarti lala sayang Ilham..iya kan ?”
“ Hehe iya-iya.. Lala sayang Ilham “ ucapku malu-malu sambil tertawa bahagia…
Akhirnya, hidupku menjadi lebih baik, orangtuaku tidak jadi bercerai mereka juga lebih perhatian padaku bahkan sejak kejadian itu Mami sama Papi janji kalau mereka tak akan bertengkar lagi, dan menyediakan waktu untuk bersamaku, sekarang Mami sama Papiku meresmikan Hari Minggu sebagai hari keluarga, karena setiap hari itu Mami sama Papi janji akan mengajakku jalan-jalan. Aku juga sadar Kalau caraku menyelesaikan masalah dengan bunuhdiri itu salah besar, andai saja waktu itu aku benar-benar mati mungkin aku sudah masuk kedalam api neraka, namun untunglah Allah masih sangat menyayangiku, terimakasih Allah, aku janji ngak akan coba-coba bunuh diri lagi, hehe.
::: THE END :::
Maaf kalo dalam Cerpen ini ada kata-kata yang menyinggung/salah, Cerita ini hanya FIKTIV dan kerangan belaka kok…. :) dan kalo EYD serta tanda baca dalam cerpen ini berantakan,mohon maklum aja yah :D karna fi memang kurang menguasai hal itu, dan masih perlu banyak-banyak belajar untuk hal itu :)
yg udah baca tinggalin jejaknya yah….jangan jadi pembaca rahasia yah….. :)
NO EDIT or Copast….hargailah karya anak bangsa dan belajarlah kreativ… :)
LIKE,KRITIK/SARAN diperlukan.. :)
Follow @26ratifamazari
Dan buat yang mau baca cerpen cerbung fi lainnya bisa JOIN di http://kumpulancerpenbyfira.blogspot.com/